Sabtu, 9 Mei 2026
Terbit : Kam, 07 Mei 2026

Dua Penyesalan Bani Adam

Oleh : Admin-A Tafsir Al-Qur'an
Dua Penyesalan Bani Adam

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Dua Penyesalan Bani Adam
🎙┃ Pemateri : Ustadz Mahyani Devi Yumaiendra, Lc Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Rabu , 6, Mei 2025 M / 18 Dzulqa’idah 1446
🕌┃ Tempat : Masjid Baiturahim – Bulakindah Karangasem.



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Allah ta’ala memerintahkan dalam ayatNya surat Maryam ayat 39:

وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ اِذْ قُضِيَ الْاَمْرُۘ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَّهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝٣٩

wa andzir-hum yaumal-ḫasrati idz qudliyal-amr, wa hum fî ghaflatiw wa hum lâ yu’minûn

Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan ketika segala perkara telah diputus, sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.

Dalam kesempatan ini, kita membahas peringatan itu:

Penyesalan 1: Bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am Ayat 27:

وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُوا۟ يَٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Walau tarā iż wuqifụ ‘alan-nāri fa qālụ yā laitanā nuraddu wa lā nukażżiba biāyāti rabbinā wa nakụna minal-muminīn

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

Tafsir ayat

  • Makna وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَى النَّارِ (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka)
    Yakni ketika mereka ditahan di dekat neraka sambil melihat bagaimana neraka tersebut.

Yakni niscaya kamu akan melihat pemandangan yang menakutkan dan keadaan yang menyeramkan.

  • Makna فَقَالُوا۟ يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ (lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan) Yakni dikembalikan ke dunia.
  • Makna kalimat يٰلَيْتَنَا dalam ayat ini adalah kalimat tamanni angan-angan yang tidak mungkin terwujud, berbeda dengan harapan (Roja’) yang ada kemungkinan harapannya terwujud.
  • Makna وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايٰتِ رَبِّنَا (dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami)
  • Mereka berangan-angan untuk dikembalikan sehingga mereka bisa untuk tidak mendustakan dan menjadi orang beriman.

Karena sesungguhnya kita akan melihat secara langsung semua kabar akhirat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Takatsur Ayat 7:

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.

Penyesalan #2: Hamba yang Menyesal Tidak Berbuat Kebaikan dalam Hidup

Dalam surat Al-Fajr Ayat 24:

وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ. يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ ۝٢٤ فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!” Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

Tafsir ayat:

Pada hari besar itu neraka jahanam didatangkan. hari itu orang kafir sadar dan bertaubat. tetapi bagaimana kesadaran dan taubatnya bermanfaat baginya sementara di dunia ia melalaikannya dan waktunya telah berlalu? Dia berkata “seandainya didunia aku telah melakukan amal-amal yang bermanfaat bagiku di akhirat.”

Maka, segeralah bertaubat sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan.

Firman-Nya dalam Surat An-Nisa Ayat 18:

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Wa laisatit-taubatu lillażīna ya’malụnas-sayyiāt, ḥattā iżā ḥaḍara aḥadahumul-mautu qāla innī tubtul-āna wa lallażīna yamụtụna wa hum kuffār, ulāika a’tadnā lahum ‘ażāban alīmā

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Maknanya:

Allah tidak menerima taubat orang yang terus menerus berbuat maksiat, kemudian saat sakaratul maut mendatanginya ia berkata: “Ya Tuhanku, kini aku bertaubat kepada-Mu.” Dan Allah juga tidak menerima taubat orang yang mati dalam keadaan kafir. Mereka adalah orang-orang yang jauh dari rahmat Allah, Kami telah menyiapkan bagi mereka azab yang pedih.

Solusi:

Kembali kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Dengan memegang amanah yang telah Allah ﷻ berikan.

Firman-Nya dalam Surat an Nisaa/4 ayat 58 :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…

Al Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Ia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ 

Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu. [Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan].

Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh seseorang yang dibebani dengannya. Baik (amanah itu) berupa hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan) shalat, zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya dan tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu orang dengan yang lainnya tanpa ada bukti atasnya.

Maka, kembalilah kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Masjid Baiturrohim
JL. Matoa II No. 15 Karangasem Laweyan Surakarta
Luas Area245 m2
Luas Bangunan240 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2005
  • Alhamdulillah tim formatur telah membentuk pengurus baru Dewan Tkmir Masjid Baiturrohim 2026-2028. InshaAllah akan mengadakan rapat perdana pada Rabu, 6 Mei 2026 Ba'da Ahalat Isya. Semoga Allah ta'ala memudahkan urusan kita.